Perbedaan Bandwidth, Speed dan Throughput

Saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan apa itu TCP Window size dan Round-trip time. Cukup diketahui bahwa TCP Window size atau RWIN (TCP Receive Window) adalah buffer data yang dapat diterima komputer tanpa memberikan ‘acknowledge’ ke sender, besarnya adalah 64Kbyte/s.
Sedangkan Round-trip time atau RTD (Round-trip Delay Time) adalah waktu tempuh antar dua node (bolak-balik) yang dibutuhkan sinyal atau paket data.
Dua ilustrasi di bawah akan menceritakan dan menjelaskan tentang throughput secara lebih mudah:
Sebuah Server X di Jakarta dengan bandwidth tersedia DS3 (45Mbps) akan diakses oleh sebuah Komputer A di Denpasar dengan bandwidth tersedia 2Mbps. Hasil ping diperoleh RTT 30ms. Berapa maksimum speed atau throughput yang bisa diperoleh Komputer A tersebut?
Perhitungan menjadi sebagai berikut:
TCP throughput Denpasar <-> Jakarta = (64000 * 8) / 0,03 = 17Mbps
Jadi kesimpulannya pelanggan Komputer A di Denpasar bisa ‘merasakan’ secara maksimal full speed/throughput di 2Mbps karena masih di bawah limit maksimum TCP Throughput (17Mbps).
Bagaimana bila ilustrasinya diubah, Server X di Jakarta tersebut akan diakses dari Komputer B di Jayapura yang berlanganan bandwidth 2Mbps. Hasil ping diperoleh RTT 600ms (backbone satelit).
Perhitungan menjadi:
TCP Throughput Jayapura <-> Jakarta = (64000 * 8) / 0,6 = 853Kbps
Woo, artinya customer 2Mbps (Komputer B) di Jayapura tidak akan pernah memperoleh hasil ‘test speed’ 2Mbps ke server X di Jakarta, karena maksimal TCP throughput yang bisa didapat hanya 800-anKbps.
Apakah ini artinya customer di Jayapura tidak bisa merasakan bandwidth 2Mbps? Tentu tidak demikian, Komputer B di Jayapura tetap bisa membebani bandwidth 2Mbps miliknya dengan cara membuat konkuren koneksi ke Server X. Karena perhitungan maksimum TCP throughput 853Kbps adalah untuk satu koneksi. Atau gampangnya 2Mbps/853Kbps = 2,4 koneksi atau user atau host, sehingga optimalnya mesti ada lebih dari 2 koneksi atau user atau host konkuren di Jayapura yang bisa digunakan untuk menghasilkan pembebanan/usage yang maksimal pada bandwidth 2Mbps.
Itulah sebabnya dalam pengukuran bandwidth yang riil, lebih digunakan UDP (User Datagram Protocol) daripada TCP (Transmission Control Protocol). Pengukuran bandwidth dengan mode UDP lebih valid dan sesuai dengan kondisi sebenarnya. Aplikasi yang bisa digunakan untuk kepentingan tersebut adalah IPERF (http://sourceforge.net/projects/iperf/), bahkan jitter, packet loss, latency/delay pun bisa diukur dengan aplikasi gratis ini.
Kesimpulan dari beberapa faktor yang mempengaruhi dalam metode pengukuran bandwidth atau throughput (speed) adalah:
1. Komputer yang dipakai untuk melakukan pengetesan, spesifikasi hardware dan software termasuk Operating System dan aplikasi/browser.
2. Lebar bandwidth antara komputer dan situs/server yang dituju.
3. Round-trip time (latency/delay) antara komputer dan situs/server tujuan

4. Waktu respons dari situs/server yang dilihat.

yang harus dipahami  bagi pengguna internet adalah seberapa besar kecepatan rata-rata koneksi Internet dari  penyelengara internet (ISP) ?
ditambah dengan penawaran dari ISP yang menulis dengan kapital “UP TO” (maksudnya mungkin speed nya bisa lebih besar dari kapasitas standar). Itulah sebabnya ada hal yang harus di perhatikan dalam pengukuran kecepatan akses internet ini,dalam  pengetesanya ada point yang kadang membuat kita menjadi bingung, sehingga perlu di ketahui hasil ukur  kecepatan aksesnya.
IBX5B3EE8CA50191